CERPEN 4: SEMANGAT RATIH
SEMANGAT RATIH
Ratih berlari ke kamarnya. Ratih duduk di meja belajar. Ratih meraih spidol besar, siap menulis. Ratih menarik bibirnya lebar, senyuman indah tampak di wajahnya. Matanya berbinar "sebentar lagi aku takkan kesepian" bisiknya dalam hati. Berani tidur sendiri, merapikan kamar sendiri, jika perlu memasak sendiri, belajar tak selalu ditemani. Ratih menempelkan kertas dengan ukuran besar itu di dinding kamarnya. Di bagian atas kertas itu tertera judul 'SEMANGAT RATIH'. "biar ingat terus" bisik hati ratih. "bunda... nanti malam ratih tidur sendiri, ya! ratih mau tidur dikamar ratih sendiri." Ratih berteriak dari ruang tamu, lalu keluar rumah. Bunda yang sedang mencuci sayur bayam, menoleh, tersenyum, dan hanya mengangguk. Sudah lama kamar ratih tidak digunakkan di malam hari. Setiap malam ratih tidur dikamar bunda. Kamar ratih hanya digunakan untuk belajar, bermain dan menyimpan perlengkapan ratih. "ratih... ratih..." bunda memanggil berkali kali. kali ini, bunda meninggalkan dapur, berjalan menuju ruang tamu. Langkah bunda terhenti di depan kamar ratih ratih. Mata bunda penuh selidik, keningnya mengernyit. Ada sesuatu yang aneh, pikir bunda. Boneka boneka yang biasanya di kasur dan juga di lantai, sekarang tidak ada. Baju seragam yang biasanya di kasur, tidak ada. Buku buku yang berserakan di meja, sekarang tidak ada. Rupanya, buku buku itu sudah tertera rapi di meja. Boneka? baju? semuanya menghilang? apa ini dibelakang pintu, tanya bunda dalam hati. Bunda melihat kantong plastik besar menghalangi pintu, lalu membukanya. Bunda tersenyum dan menggelengkan kepala. Tidak lama kemudian, ratih pulang. "wah, kamarmu sekarang terlihat sangat luas, ya. Bunda senang sekali ternyata ratih pintar beres beres ya. Tapi..." ratih yang tadinya tersenyum, mengerutkan mulutnya. "tapi apa bun?" tanya ratih penasaran. "yang dibelakang pintu itu? kenapa seragam kotor masuk ke sana? kenapa tidak diletakkan di ember pakaian kotor..." tangan bunda meraih pinggang ratih dan menggelitikinya. "hi hi... iya... tadi ratih terlalu cepat memasukkan semua barang, enggak dilihat dulu. Soalnya titi sudah memanggil dari luar" cerita ratih.
Siang berganti malam. Ratih sendirian di kamar. Lampu tidur dinyalakan. Beberapa saat ratih bangun dan mengganti lampu dengan lampu ruangan. Hmm... takut ah, kalau lampunya tidak terang, pikirnya. Ratih kembali ke kasur. Ratih belum bisa memejamkan mata. Jam menunjukkan pukul 23:10. Kakinya seakan ingin diajak melangkah keluar. Mulutnya seakan ingin berteriak memanggil bunda, namun ratih bisa menahannya. "aku harus bia!" ungkapnya dalam hati. Ratih tersenyum mengingat cerita bunda tentang adik bayi. Akhirnya ratih bisa memejamkan mata. Keesokan harinya, ratih bangun kesiangan. Dirumah tidak ada siapa siapa. waduh, gimana nih? sarapanku? tempat tidurku? ratih bergegas ke kamar mandi. Memakai seragam, lalu melangkah keluar. Langkah kaki ratih terhenti... ups... belum merapikan tempat tidur. Mata ratih mencari jam dinding. Oh masih ada waktu. Ratih berbalik merapikan tempat tidur. Ia juga berpikir tentang apa, yang harus dilakukannya setelah itu. Ratih bergegas ke meja makan, mengambil roti cokelat ditempat roti. Sambil makan, ratih melihat secarik kertas yang tertempel di kulkas.
Ratih girang, "yes yes yes! aku akan segera punya adik!" ratih keluar rumah berjingkrak jingkrak menuju sekolah yang tak jauh dari rumahnya.
Siang berganti malam. Ratih sendirian di kamar. Lampu tidur dinyalakan. Beberapa saat ratih bangun dan mengganti lampu dengan lampu ruangan. Hmm... takut ah, kalau lampunya tidak terang, pikirnya. Ratih kembali ke kasur. Ratih belum bisa memejamkan mata. Jam menunjukkan pukul 23:10. Kakinya seakan ingin diajak melangkah keluar. Mulutnya seakan ingin berteriak memanggil bunda, namun ratih bisa menahannya. "aku harus bia!" ungkapnya dalam hati. Ratih tersenyum mengingat cerita bunda tentang adik bayi. Akhirnya ratih bisa memejamkan mata. Keesokan harinya, ratih bangun kesiangan. Dirumah tidak ada siapa siapa. waduh, gimana nih? sarapanku? tempat tidurku? ratih bergegas ke kamar mandi. Memakai seragam, lalu melangkah keluar. Langkah kaki ratih terhenti... ups... belum merapikan tempat tidur. Mata ratih mencari jam dinding. Oh masih ada waktu. Ratih berbalik merapikan tempat tidur. Ia juga berpikir tentang apa, yang harus dilakukannya setelah itu. Ratih bergegas ke meja makan, mengambil roti cokelat ditempat roti. Sambil makan, ratih melihat secarik kertas yang tertempel di kulkas.
Ratih, bunda kerumah sakit. Adik bayi akan segera lahir. Ratih pasti bisa menyiapkan semuanya sendiri. Karrena bunda sudah baca tulisan 'semangat ratih' selamat pergi sekolah ya, sayang...
Komentar
Posting Komentar