CERPEN 3: KARTU TIRUAN
KARTU TIRUAN
"Selamat berlibur" kata alesha sambil mengulurkan sehelai kartu padaku. Kuterima kartu itu tanpa mengucapkan terimakasih. Begitu ia meninggalkanku, aku mendengus. Lagi lagi meniru, batinku. Dengan sekali lihat saja, aku sudah bisa menebak. Kartu yang baru saja diberikan alesha ini pasti tiruan! seisi kelas tau, alesha suka sekali meniru. Karya devy, teman sebangkuku, yang paling sering ditiru alesha. Kartu ini pasti juga tiruan dari kartu yang pernah diberikan devy pada alesha. Saat alesha ulang tahun bulan lalu, devy membuat sendiri kartu ucapan untuk alesha. Aku dan beberapa temam yang lain juga pernah mendapat kartu ucapan semacam itu dari devy. Kartu itu sebenarnya sederhana saja. Bahannya kertas tebal berwarna yang dipotong kira kira satu halaman buku tulis dan dilipat dua. Devy lalu menuliskan ucapan dengan huruf bertinta warna warni yang dibuat bergaya. Kartu itu lalu dibheri gambar, dan ditempeli potongan potongan kertas aneka warna. Lucu, keren. Aku dan teman teman menyukainya. Begitu devy datang, aku segera memperlihatkan kartu yang baru saja kuterima itu padanya. "nih, dia menirumu lagi" kataku. Devy melirik kartu yang kutunjukkan sambil memasukkan tasnya ke laci meja. "bagus" jawabnya. "dia meniru kartumu" kataku agak kesal. Sebelum devy menjawab, alesha tiba tiba sudah berada disamping meja kami. "ini untukmu dev. bagus kan? selamat berlibur, ya!" katanya sambil mengulurkan sehelai kartu pada devy. ih tidak tahu malu, batinku. Devy menerima kartu itu. Mengamati dan membukanya. "bagus dan rapi" puji devy sambil tersenyum. Mendengar pujian itu, alesha tersenyum lebar lalu meninggalkan kami. "dev" aku menyenggol lengan devy. "dia itu meniru kamu. Masih juga kamu puji!" "tidak apa apa re" jawab devy tenang sambil memasukkan kartu kedalam laci. Aku hanya bisa mendesah. Devy memang terkadang mengesalkan. Sudah dibela, tetapi tidak merasa. Beberapa waktu lalu, alesha juga melakukan hal yang sama. waktu itu, beberapa buku devy diberi sampul kertas HVS putih, yang seperti tercorat coret cat warna warni. Meski tampaknya coret coretan saja, tetapi sampul itu tampak bagus. Devy memberiku selembar sampul kertas itu. Eh beberapa hari setelah itu, semua buku alesha sudah disampul dengan kertas HVS yang penuh coretan cat. Pasti maunya meniru yang dilakukannya devy. Tetapi menurutku, hasilnya jauh dari karya devy. Jelek! malah mirip kertas yang bekas dipakai untuk mengelap cat. "kamu mau bikin apa untuk prakarya nanti?" tanya devy beberapa saat kemudian. "sampul buku antik" jawabku sambil menunjukan koran bekas dengan berbagai gambar dan tulisan pada devy. "kamu?".
pada pelajaran keterampilan hari ini, pak hendras akan mengajak kami membuat kerajinan dari barang bekas. Jadi kami diminta untuk membawa barang bekas, yang akan kami ubah menjadi barang yang berguna. "kumpulan cerita dari majalah bekas" jawab devy. ia membuka tasnya dan menunjukkan majalah bekas yang dibawanya. Tepat pada saat devy membuka tasnya, alesha datang lagi ke meja kami. Melihat majalah bekas itu, ia bertanya. Devy pun menjelaskan. "oh..., aku juga punya majalah bekas. istirahat nanti, aku akan mengambilnya." kata alesha. Hhh! kali ini, aku tak tahan lagi dengan sikap alesha. "alesha itu jelas menirumu! kamu, kok, tenang tenang saja. aku saja sebal melihatnya" kataku emosi. "biar saja, tidak apa apa kok" jawab devy tenang. "itu berarti dia mencuri idemu. Mestinya kamu tegur dia." devy menggeleng. "tidak apa apa. kalau karyaku ditiru, berarti bagus. Bisa diterima banyak orang" aku menatap devy. Dengan cemberut tentu. "aku juga jadi tambah semangat membuat karya baru. lagi pula, tidak mungkin aku melarang orang lain meniruku. Mungkin ada juga yang meniruku, tetapi tidak menunjukkan hasilnya padaku. Jadi aku tidak tahu." lanjut devy. Mendengar jawaban devy aku langsung terdiam. sebenarnya, aku juga sering meniru devy. Hanya saya aku tidak membawanya kesekolah karena tak mau dianggap sebagai peniru. jadi sebenarnya alesha masih lebih jujur dibnading aku?. Ah, aku jadi malu.
Komentar
Posting Komentar